• Tebuireng
  • News
  • Keislaman
  • Pesantren
  • Kebangsaan
  • Galeri
  • Kolom Pakar
  • Politik
Tebuireng Initiatives
  • Home
  • News
  • Keislaman
  • Pesantren
  • Kebangsaan
  • Galeri
  • Politik
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Keislaman
  • Pesantren
  • Kebangsaan
  • Galeri
  • Politik
No Result
View All Result
Tebuireng Initiatives
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Keislaman
  • Pesantren
  • Kebangsaan
  • Galeri
  • Politik
Tebuireng Initiatives

KH Cholik Hasyim, Sang Kiai Waskita

Syarif Abdurrahman by Syarif Abdurrahman
2021-08-27
in Kiai, Tebuireng, Tokoh
0
KH Cholik Hasyim, Sang Kiai Waskita

KH Cholik Hasyim, Sang Kiai Waskita

Tebuireng.co – Melihat kiai Cholik Hasyim dalam poto terlihat besar dan tinggi orangnya. Sosok Kiai Cholik Hasyim yang kita kenal sebagai salah satu putra Hadratussyaikh KH. M. Hasyim, pernah menjadi Pengasuh Tebuireng, pendiri partai AKUI, pejuang kemerdekaan, anggota PETA, BKR-TKR- TRI-TNI dan lain-lainnya.

Kiai Cholik lahir pada tahun 1916. Sejak kecil belajar kepada Hadratussyaikh. Beliau juga belajar di sejumlah pesantren. Misalnya, Pesantren Kasingan, (Rembang) Pesantren Kajen, (Pati) Pesantren Sekarputih, (Nganjuk), dan tanah suci, ‘Makkah dan Madinah.’

Kiai Cholik juga sangat menyukai dunia mesin. Mobil andalannya saat itu, Jeep Wilis. Dengan mobilnya itu beliau berkeliling ‘bersilaturahim’ , dll ke sejumlah daerah dengan menyetir sendiri. Dengan membawa surat sakti bertanda tangan sang jendral, kiai Cholik bawa jalan kemana-mana.
Beliau bersahabat baik dengan Panglima Besar Jenderal Soedirman.

Ayah Gus Hakam ini juga termasuk salah seorang Kiai Waskita. Saat menjadi pengasuh Tebuireng beliau pernah dawuh, “Kalau ke makam Hadratussyaikh beliau menganjurkan kepada para santrinya selepas Ashar.” Kenapa? “Alasan beliau waktu menjelang terbenamnya matahari adalah salah satu waktu mustajabah’ dikabulkannya doa.” Beliau juga dawuh, kalau ke makam Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari, “jangan meminta-minta sama beliau.” Mintalah kepada Allah SWT. Beliau hanya perantara. Ya, setengah jam, sudah cukup.”

Beliau juga sering berpesan kepada para santrinya, “kalau kamu mondok harus mau belajar mandiri, kalau tidak bisa bertanyalah kepada gurumu.” “Mengandalkan guru ia, tapi juga harus mau belajar mandiri.” Dalam hal ini mengingatkan kita akan sosok KH. Abd. Wahid Hasyim. Beliau selain belajar dengan tekun kepada Hadratussyaikh juga membaca buku apa saja. Dari perpustakaan pribadi ayahnya ini beliau menikmati asyiknya membaca.

Selanjutnya juga mengingatkan kita, akan model belajar yang diterapkan kiai Idris Kamali, setiap santri yang mau mengaji kepada beliau, kitab yang mau dingajikan harus dibaca, dihafal dulu, baru boleh mengaji kepada beliau. Itu syarat utamanya, selain itu juga harus disiplin tidak boleh absen tanpa alasan yang jelas. Kalau sampai tidak masuk setelah itu harus meminta maaaf kepada orangtua baru bisa mengaji kembali. Dan sejumlah persyaratan lain.

Kiai Cholik sebagai kiai juga terkenal sangat disiplin. Saat menyeleksi para calon guru beliau sering melihat dua sisi. Pertama, sisi spiritual. Kedua, sisi intelektual. Beliau juga mewanti-wanti kepada para calon guru, jangan sampai saat mengajar hanya karena melihat imbalan materinya saja. Niatlah semata-mata karena Allah untuk mengamalkan ilmu. Dengan niat ikhlas menjadi syarat utamanya. Allah pasti akan memberikan kecukupan.

Kiai Cholik juga sangat tegas, siapapun yang melanggar tak terkecuali putra beliau sendiri akan dijatuhi hukuman. Salah satu pesan lain yang sangat bermakna dari Kiai Cholik Hasyim yakni, “kamu para santri dalam menuntut ilmu sebaiknya tidak kurang dari 8 tahun. Beliau menganalogikan, jika santri hanya mondok 8 tahun, maka dia akan menguasai satu kecamatan. Kalau mondoknya 15 tahuh, maka bisa menguasai satu kabupaten. Jika 25 tahun, maka dia akan menguasai propinsi.” Maksud kata-kata Kiai Cholik di atas ialah, mencari ilmu harus ditempuh dalam kurun waktu yang lama. Sebagaimana dilakukan oleh para ulama terdahulu, agar ilmu didapat bisa mencapai taraf kematangan.

Dalam banyak cerita kaum sarungan, orang menyantri di pesantren memang tidak dibatasi mau sampai kapan. Ada santri baru mondok sehari, seminggu, sebulan, setahun, dan seterusnya oleh kiainya dianggap cukup lalu disuruh pindah. Tentu saja pindahnya bukan karena perilaku kurang terpujinya. Dalam hal ini, para kiai punya cara sendiri. Orang belajar di pesantren atau dimana pun terpenting sungguh-sungguh mencari ilmu karena Allah. Orang belajar bukan karena ingin populer, meraih pangkat, dan lain-lain.

Membaca, merenungkan, dan menghayati kembali pesan-pesan para kiai kita sungguh membuat kita dapat mengambil pelajaran penting dari kiai kita. Meskipun pesan-pesan itu buat santri terdahulu namun kita sebagai generasi yang sangat jauh bahkan tak melihat secara langsung serasa ada getaran, dan tidak salah juga mau mendengar dan mengikuti, buat pribadi supaya tidak sembrono, dll.
Al Fatihah.

Oleh, Ahmad Faozan, LH 03.

Disarikan dari Buku karya Muhammad Yahya, Dawud Ubaidillah, dan Habibi, Pahlwan Yang Tak Terlupakan, Sang Kiai Kadigdayan, Jombang: Pustaka Tebuireng, 2011.

Tags: KH Cholik HasyimKH. M. Hasyim Asy’ariTebuireng
Previous Post

Perempuan Indonesia Pertama Peraih Gelar Prestisius dari al-Azhar

Next Post

Keagungan Ahlussunnah wal Jama’ah dan Bantahan terhadap Mujassimah

Syarif Abdurrahman

Syarif Abdurrahman

Santri Pondok Pesantren Tebuireng.

Next Post
Keagungan Ahlussunnah wal Jama’ah dan Bantahan terhadap Mujassimah

Keagungan Ahlussunnah wal Jama’ah dan Bantahan terhadap Mujassimah

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No Result
View All Result

Pos-pos Terbaru

  • Prokrastinasi dalam Kehidupan Mahasiswa Semester Akhir
  • Gus Iqdam: Cara Sederhana Menghadapi Kesulitan Hidup
  • Bulan Rajab dalam Pandangan Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani
  • Passiliran, Tradisi Unik Pemakaman Bayi di Toraja
  • Tradisi Turun Temurun Toleransi Lintas Agama Warga Dusun Thekelan Semarang

Komentar Terbaru

  • Yayat.hendrayana pada Surat Yasin dan Amalan Segala Hajat
  • Universitas Islam Sultan Agung pada Pentingnya Bahtsul Masail sebagai Ruh Pesantren
  • Thowiroh pada Dauroh Badlan Al-Masruriyy Cetak Santri Bisa Bahasa Arab 2 Bulan
  • Dodi Sobari pada Dauroh Badlan Al-Masruriyy Cetak Santri Bisa Bahasa Arab 2 Bulan
  • Tri Setyowati pada Ijazah Wirid dari Kiai Abdul Wahab Hasbullah
  • About
  • Kontak
  • Privacy & Policy
  • Terms and Conditions
  • Disclaimer
  • Redaksi
  • Pedoman Media

© 2021 Tebuireng Initiatives - Berkarya Untuk Bangsa by Tebuireng

No Result
View All Result
  • Tebuireng
  • News
  • Keislaman
  • Pesantren
  • Kebangsaan
  • Galeri
  • Kolom Pakar
  • Politik

© 2021 Tebuireng Initiatives - Berkarya Untuk Bangsa by Tebuireng