Ada salah satu fenomena yang kerap dirasakan para mahasiswa akhir di antara banyak tuntuntan deadline tugasnya, yakni menjadi orang yang lebih rajin dan produktif di berbagai hal selain mengerjakan tugas akhirnya. Bagi mereka, selain menyentuh laptop dan melihat file tugas akan menjadi sesuatu yang akan sangat menarik untuk dilakukan.
Faktanya, fenomena ini menjadi hal yang tidak selalu baik. Meski sekilas, mereka terlihat tidak menganggur dan sedang melakukan sesuatu. Sebab, pada hakikatnya, mereka sedang ingin menunda melakukan kewajibannya dan berusaha agar tidak merasa “berdosa” dengan melakukan kegiatan lainnya.
Dalam ilmu psikologis, Kebiasaan menunda seperti ini disebut prokrastinasi. Sebuah bentuk penundaan yang dilakukan secara sadar meskipun seseorang tersebut memahami ada pekerjaan yang seharusnya dilakukan. Yang bahkan, meskipun mereka mengetahui hal tersebut dapat berdampak negatif bagi masa depannya, mereka tetap cenderung menunda pekerjaan dengan mengalihkan perhatian pada aktivitas lain yang dirasa lebih menyenangkan atau mudah.
Menurut Dr Fuschia Sirois dari Universitas Sheffield, prokrastinasi atau fenomena menunda kewajiban dan lebih memilih hal lainnya ini berasal dari masalah pengelolaan emosi. Seorang bisa cenderung melakukan prokrastinasi karena ingin menghindari perasaan tidak nyaman, seperti cemas, takut gagal, atau tidak percaya pada dirinya sendiri ketika mengerjakan tugas tersebut.
Menjalani kehidupan di semester akhir memang selalu tidak semudah kata orang yang sering nyeletuk, “enak loh semester akhir cuma ngerjain skripsi,” padahal bagi mereka yang sedang menjani, kata skripsi, tesis dan semacamnya terdengar sangat menyeramkan karena mendengarnya sekaligus menghadirkan bayangan revisi, berbagai teori, dan metode ilmiah yang sangat sulit dipahami.
Atau seseorang yang tiba-tiba mengatakan “ semangat ya, tinggal satu langkah lagi,” perkataan yang hanya bisa ditanggapi oleh senyum ketar ketir mahasiswa akhir. Sebab bagi mereka, satu langkah itu seperti harus berjalan seribu hari.
Belum lagi, jika semester akhir perkuliahan dijalani dengan sambil bekerja atau mengikuti kegiatan lainnya. Di dalam pondok misalnya, kehidupan dengan schedule kegiatan yang sudah tertata dan kita harus pintar membagi waktu sebaik mungkin agar tugas kita juga tidak terlantar.
Fase ini menjadi fase paling rentan mahasiswa akhir mengalami stress yang dalam bahasa yang kekinian disebut Burnout . Bukan hanya karena harus mengerjakan tugas akhir, tapi juga harus menghadapi berbagai rintangannya. Seperti tiba-tiba laptop rusak, dosen pembimbing sulit ditemui, pengumpulan data yang sulit dilakukan, teori yang terasa tidak nyambung dengan topik penelitian, atau ide-ide dalam kerangka tulisan yang susah muncul dalam pikiran. Hal yang sering membuat mahasiswa akhir tidak fokus, kehilangan semangat dan penelitiannya menjadi mandek (read: berhenti dikerjakan)
Pada akhirnya, semangat dan motivasi untuk mengerjakan tugas di semester akhir berupa skripsi, tesis, disertasi dan semacamnya harus tumbuh dari dalam diri sendiri. Yakni paksaan secara sadar bahwa meski setiap hari dipenuhi rasa takut dan cemas, kita harus menyakini bahwa fase ini adalah bagian dari perjalanan yang harus dihadapi bukan dihindari.
Keberhasilan untuk menyelesaikan tugas ini tidak lagi untuk membuktikan kepada orang lain, tapi kepada diri sendiri bahwa segala yang terjadi di fase tersebut merupakan bagian dari pilihan dan keputusan kita untuk masuk ke dalamnya.
Baca juga: Mahasiswa Kosan dan Masyarakat
