Jiwa toleransi lintas agama warga Dusun Thekelan Desa Batur Kabupaten Semarang menjadi tradisi turun temurun yang terus dilestarikan di setiap generasi. Pada setiap perayaan hari besar keagamaan, warga dusun Thekelan tersebut akan silaturahmi dengan mengunjungi tempat peribadatan masing-masing agama untuk bersalaman dan saling meminta maaf.
Beberapa agama yang dianut warga dusun tersebut antara lain Kristen, buddha dan islam. Pada setiap hari besar keagamaan masing-masing, mereka akan melakukan silaturahmi. hal ini seperti yang terlihat dalam perayaan natal 2025.
Sejak pagi, para warga Muslim dan Buddha sudah berbaris rapi menunggu di depan Gereja GPDI Jemaat El Shaddai Thekelan yang sedang beribadah. Mereka menunggu untuk saling berjabat tangan, berpelukan, dan mengucap selamat pada hari raya keagamaan umat Kristen yang sedang dirayakan.
Tradisi ini terus dilestarikan sebagai upaya menjaga dan menghormati umat lintas agama. Seperti dikutip dari website suara jombang.com, salah satu warga bernama Mbah Sarmi degan usia 88 tahun menjelaskan bahwa tradisi toleransi dengan saling ucap selamat dan maaf-memaafkan ini telah mengalir dalam darahnya sejak lahir di dusun tersebut sejak puluhan tahun lamanya.
Dalam sejarahnya, Tradisi toleransi di Dusun Thekelan ini berawal dari warisan leluhur, di mana kehidupan lintas agama yakni Islam, Kristen, Katolik, Buddha yang hidup di lereng Merbabu menjadi metafor filosofis bahwa gunung yang kokoh tak pernah memilih angin dari mana datangnya.
Sejak dulu, keharmonisan warga lintas agama di Dusun Thekelen tersebut juga terekam dalam potret saling bahu membahu membantu dalam mempersiapkan perayaan hari besar keagamaan dan bahkan tidak pernah menuai konflik.
Hal ini menjadi identitas tersendiri bagi wilayah yang mendapat julukan “negeri atas awan” tersebut sebagai bukti bahwa kerukunan beragama adalah jalan filsafat menuju kedamaian.
Baca juga: Ketua MUI Jelaskan Pentingnya Memahami Batasan Toleransi

