Santri dan Hari Kebangkitan Nasional

santri dan hari kebangkitan nasional

santri dan hari kebangkitan nasional

Nabi Muhammad SAW, pelita yang membawa umatnya dari alam kegelapan menuju alam yang terang menerang dan penuh dengan ilmu pengetahuan. Berkat beliau, kita bisa merasakan indahnya persaudaraan dan kebersamaan. Nabi Muhammad Saw adalah titik tolak kebangkitan bangsa Arab. Seorang pemuda revolusioner yang membawa angin segar pada masyarakat. Tak jauh berbeda dengan Indonesia, hari kebangkitan nasional yang diperingati setiap tanggal 20 Mei diambil dari hari lahirnya organisasi pemuda Boedi Oetomo.

Hari kebangkitan nasional mengingat kembali kepada semua bahwa bangsa yang kuat adalah bangsa yang memiliki pemuda-pemuda yang hebat. Santri bagian dari pemuda itu sendiri. Pemuda sebagai ujung tombak perubahan, yang mampu membawa bangsanya untuk bersaing dengan bangsa lain, dan sejajar dengan bangsa lain.

Seperti ungkapan yang pernah disampaikan oleh tokoh nasional kita Bung Karno, orator ulung yang sudah dikenal dunia dan kebanggaan bangsa Indonesia.

”Beri aku sepuluh pemuda, maka akan ku goncangkan dunia ,”

Kalimat tersebut menyanjung betapa pentingnya keberadaan sebuah komunitas pemuda dalam suatu bangsa dan Negara. Salah satu komunitas pemuda yang besar adalah santri. Dalam sejarah Indonesia dari prolog sampai epilog kemerdekaan, santri memiliki peranan luar biasa sebagai ujung tombak perubahan. Tonggak kebangkitan lahirnya kesadaran “berbangsa”. Santri ikut mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan. Hari santri yang diinisiasi oleh para tokoh pesantren KH M Hasyim Asy’ari dan para santrinya karena resolusi jihad pada tanggal 22 Oktober 1945 diduga kuat memotivasi terjadi peristiwa 10 November di Surabaya. Di mana Bung Tomo memekikkan takbirnya untuk pemuda agar berperang mengusir penjajah.

Oleh karenanya, kita sebagai generasi penerus kiranya perlu merenung kembali dengan jiwa dan semangat kebangsaan serta keinginan bersatu yang tinggi. Apakah ikatan kita sebagai santri sudah kuat dan kokoh?. Sehingga bisa meneruskan perjuangan para pahlawan seperti Kiai Hasyim, Kiai Wahab dan Kiai Wachid Hasyim?.

Baca Juga: Pondok Pesantren Titik Terang Pendidikan Indonesia

Sudah bukan menjadi rahasia umum, kalau kebangkitan atau kemerosotan sebuah bangsa sangat dipengaruhi oleh semangat pemuda – pemudanya. Ada banyak sejarah yang membuktikan ketika kekuatan para pemuda yang bersatu padu dapat menggulingkan kekuasaan yang sangat kokoh sekalipun. Indonesia pernah memiliki tokoh pemuda hebat seperti KH Wahid Hasyim yang kemudian membuat gerakan besar di dunia pendidikan. Sosok Kiai Wahid berusaha memadukan keislaman dan kebangsaan. Kita bisa lihat bagaimana kebijakannya memasukan pelajaran agama dalam sekolah-sekolah milik pemerintah. Ia juga menginisiasi berdirinya perguruan tinggi Islam negeri. Pemikiran Kiai Wahid tetap lestari hingga hari ini. Ini lah contoh pemuda yang memiliki visi dan tujuan jelas ke depannya.

Kiai Wahid seperti kita kenal adalah seorang santri tulen. Putra kandung dari Hadratussyaikh M Hasyim Asy’ari, pendiri Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Sekarang, Indonesia memiliki aset yang paling besar berupa pesantren yang memiliki jutaan santri. Santri sebagai sebagai penerus bangsa. Di tangan kita-kita inilah Indonesia akan kita bawa mundur atau maju. Baik buruk bangsa tergantung pada bagaimana perilaku kita generasi muda santri.

Masa muda adalah masa yang penuh dengan harapan, penuh dengan cita-cita, penuh dengan romantika kehidupan yang sangat indah. Keindahan yang dihiasi dengan bentuk fisik yang kuat, berjalan masih cepat, pendengaran masih akurat, pikiran masih cermat, kulit wajah indah mengkilat. Oleh karena itu, pantas bila pemuda atau santri menjadi salah satu penentu maju dan mundurnya suatu bangsa dan negara, sebab terbukti sejak dahulu kala hingga saat ini dan sampai masa yang akan datang, sesuai dengan fitrahnya pemuda atau santri menjadi tulang punggung sebuah negara, penerus estafet pembangunan masa depan bangsa.

Agar kita para santri menjadi pemuda yang hebat , kita harus mampu menghindari lima kelemahan seperti yang di katakan oleh Prof. Dr. BJ Habibi yakni lemah harta, lemah fisik, lemah ilmu, lemah semangat hidup dan yang sangat ditakutkan adalah lemah akhlaq. Jika lima kelemahan ini melekat pada pemuda, kita yakin mereka bukan pelopor pembangunan, melainkan virus pembangunan, penghambat pembangunan, bahkan penghancur pembangunan masa depan bangsa.

Namun, di balik sosok santri yang hebat , tidak lepas dari peranan orang tua dan sosok kiai yang hebat pula, yang senantiasa mendidik anak-anaknya, santrinya, mendukung mendoakan, karena merekalah lahir pemuda-pemuda yang hebat.

Sejarah mengajarkan kepada kita selaku pemuda agar memiliki semangat juang yang tinggi bagi pembangunan masa depan bangsa. Pemuda hari ini adalah pemimpin di hari esok.

Sebagai contoh bagi kita pemuda, Mari kita renungkan firman Allah SWT dalam Al- Qur’an surah AlKahfi ayat 13 yang berbunyi :

Artinya : “Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk. “

Mari kita ingat kembali apa yang Rasulullah sampaikan kepada kita. Apabila kita bergaul dengan tukang las maka akan kebagian bau asapnya. Jika kita bergaul dengan tukang minyak wangi maka akan kebagian wanginya. Dari perumpamaan tersebut dapat kita petik hikmah bahwa untuk memperbaiki keadaan remaja dan pelajar itu terpulang dari kemauan dan usaha kita sendiri. Sebagaimana pepatah yang berbunyi “Where is the want there is a way, di mana ada kemauan maka disitu ada jalan”

Perlu diingat, bangsa yang besar adalah bangsa yang mau dan mampu menghargai sejarah perjuangan para pendahulunya, sedangkan santri yang hebat adalah santri yang mampu membuat bangsanya menjadi bangsa yang kuat. Dan dari orang tua yang hebat maka akan terlahir santri yang hebat, seperti pepatah mengatakan karena buah jatuh tak jauh dari pohonnya.

Jika ada seribu santri yang membela kebenaran, aku berada diantaranya. Jika ada seratus santri yang membela kebenaran, aku berada diantaranya. Jika ada sepuluh santri pembela kebenaran, aku tetap ada di barisan itu. Dan jika hanya ada satu santri yang tetap membela kebenaran, maka akulah orangnya. Santri Kiai Hasyim Asy’ari.

Abdurrahman
Santri Tebuireng

Exit mobile version