Santri itu Belajar untuk Mengamalkan dan Mengajarkan

Nasehat KH. Ishaq Latief Kepada Para Santri

Santri itu Belajar untuk Mengamalkan dan Mengajarkan

Santri itu Belajar untuk Mengamalkan dan Mengajarkan

tebuireng.co – Sebagai seorang Guru dan juga sebagai seorang Masyayikh yang mengajar di Pondok pesantren Tebuireng, KH. Ishaq latief Selalu berpesan kepada para santri bahwa tugas seorang santri adalah belajar untuk mengamalkan dan mengajarkan ilmu yang telah diperoleh selama di pondok pesantren, terutama bagi para santrinya yang berada di Pondok Pesantren Tebuireng.

Ayat yang sering Beliau sitir adalah surat At-taubah ayat 122

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

“Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya.”

Di bawah ini adalah rangkuman dari beberapa Nasehat KH. Ishaq latief kepada Para santri, terutama santri Pondok Pesantren Tebuireng.

Pertama, santri/pelajar ketika keluar dari kampung halaman untuk menimba ilmu harus memiliki niatan yang kuat. Belajar semata-mata untuk memerangi kebodohan. “Katakanlah. Apakah, sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui”. QS. Az Zumar : 9. Maksudnya, orang yang berpengetahuan tidak sama dengan orang yang bodoh. Sebagaimana di tegaskan dalam Hadis Nabi. Yang artinya: “Sesungguhnya kemuliaan ilmu pengetahuan itu di atas kemuliaan nasab“. Contohnya, Siti Aisyah, istri Nabi SAW. yang lebih utama daripada Siti Fatimah. Siti Aisyah sendiri dalam bidang keilmuan mengungkapkan dalam hadis nabi. “Ambillah dua pertiga agamamu dari Siti Aisyah!”

Kedua, berniat menuntut ilmu agama agar kehidupan kita di dunia yang fana ini berguna dan bermanfaat bagi orang lain. Nabi Saw. bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang berguna (bermanfaat) untuk orang lain”. Di manapun kita berada sebaiknya menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesamanya.

Menjadi Muslim Teladan

Dewasa ini, banyak orang yang mengaku ahli agama, namun melihat perilakunya jauh dari nilai-nilai keteladanan. Ucapan dan tindakannya tidak selaras. Akhirnya, kehilangan wibawanya dan beragam pandangan negatif di alamatkan kepada-nya. Seorang mukmin sejati harus mampu menampilkan pribadi yang baik. Baik saat di hadapan Tuhan maupun sesamanya. Karena seorang mukmin sejati juga di tuntut untuk bersikap profesional.

Menurut KH. Ishaq Latief seorang Mukmin sejati memiliki sifat seperti Lebah.
Pertama
, bila ia memakan maka apa yang di makannya halal (yaitu sari-sari bunga yang di hisabnya).
Kedua, bila ia mengeluarkan, maka yang di keluarkan adalah madu, yang bermanfaat bagi kesehatan. Begitu pula ketika mengeluarkan pembicaraan hendaknya pembicaraan yang diungkapkan bukan dusta ataupun ungkapan yang menyakitkan.
Ketiga, bila ia hinggap di dahan, maka dahan yang di hinggapi tidak akan patah walaupun dahan tersebut dahan yang lapuk. Artinya di manapun kita hidup jangan merusak lingkungan. Baik lingkungannya maupun lingkungan orang lain. Sesungguhnya, Lebah tidak akan merusak lingkungan terkecuali ia di usik pasti ia akan mengamuk.

Tuntutlah Ilmu

Menuntut ilmu merupakan salah satu kewajiban bagi setiap muslim-muslimah. Dengan ilmu membantu seorang (santri) meraih derajat tertinggi baik di hadapan Tuhan dan sesamanya. Sebaliknya, hidup tanpa ilmu sudah pasti hidupnya akan mudah tersesat. Itulah mengapa Manusia yang di anugerahi gelar Khalifatun Fil Ard harus membekali diri dengan ilmu.Sudah begitu banyak orang pandai, memiliki kedudukan tinggi, hartanya melimpah ruah, dan lainnya namun hidupnya jauh dari Tuhan. Seorang Muslim sejati tentu tidak demikian, ia akan selalu ingat akan kebesaran Tuhan. Dan di kehidupan setelah mati akan di perhitungkan amalnya. Maka dari itulah, dengan ilmu agama yang di pelajari khususnya di Pesantren akan membantu seorang muslim hidup di jalan yang diridhai Allah.

KH. Ishaq Latief menuturkan, bahwasanya Nabi Muhammad SAW. bersabda: “Pelajarilah ilmu agama. Tuntunlah ilmu agama dengan sungguh-sungguh dan tekun sebelum ilmu agama itu di cabut oleh Allah. Sesungguhnya Allah akan mencabut ilmu agama dari wafatnya ulama’ (yang membidangi ilmu agama itu sendiri)” . Dalam hadis lain di sebutkan, “Jadilah engkau sebagai orang yang berilmu, orang yang belajar ilmu, orang yang mendengarkan ilmu, atau orang yang mencintai ilmu, dan janganlah kamu menjadi orang kelima (tidak empat-empatnya) karena kamu akan rusak.”

Menurut KH. Ishaq Latief, Belajar ilmu agama seperti di Pesantren tidak usah khawatir jika masa depannya suram, khawatir tidak kaya, tidak punya jabatan, dll. Rasa ketakutan seperti inilah yang acapakali menghantui para orangtua dan pelajar muslim.

Amalkan Ilmumu

Niat Belajar ilmu agama untuk diamalkan. Bukan untuk berbangga diri dan menyombongi orang lain. “Ilmu tanpa amal membahayakan (bagi yang punya ilmu), dan amal tanpa ilmu menyesatkan (dirinya sendiri dan orang lain)”.

Nabi Musa pernah meminta wasiat kepada Nabi Khidir As ketika gagal berguru kepadanya: “Kamu jangan menuntut ilmu untuk bercerita (bercanda)”.

Tuntutlah ilmu setelah mendapatkannya lantas amalkanlah. Semasa menjadi santri di Pesantren Tebuireng saya selalu mengikuti pengajian kitab yang di bacakan oleh KH. Adlan Aly. Saat khataman kitab, Gurunya, KH. Adlan Ali juga seringkali menyampaikan pesan buat santrinya.

من عمل بما علم علمه الله علم ما لم يعلم

Jadi, barangsiapa yang mengamalkan ilmu yang telah diketahui, maka Allah akan memberikan ilmu yang belum diketahui. Tetapi itu adalah perkara yang berat bagi kebanyakan orangز

The Review

Exit mobile version