Keberpihakan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada rakyat kecil, tercermin jelas dalam perbuatan sehari-harinya dan tersimpan rapi di karya-karyanya. Sangat mudah ditemui jejak kemanusiaan Gus Dur. Pada tahun 1996, di Yogyakarta, Gus Dur pernah bicara lugas di hadapan tokoh intelektual Nahdlatul Ulama tentang pentingnya Ulama atau tokoh agama memiliki keberpihakan pada rakyat kecil.
Saat itu, Gus Dur bicara dalam Program Pengembangan Wawasan Keulamaan (PPWK) yang diselenggarakan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Topik utamanya adalah Islam dan perubahan sosial. Bagi Gus Dur, ulama tidak bisa pura-pura tidak tahu dan harus peduli terhadap tantangan-tantangan globalisasi dan liberalisasi ekonomi.
Di forum tersebut, Gus Dur mengingatkan bahwa ulama dan tokoh masyarakat harus memekarkan wilayah perhatian mereka pada hal-hal teoritik (mencari ketentuan akhlak, tatanan sosial) maupun praktis (cara-cara menanggulangi perubahan sosial), karena permasalahan di masyarakat nyata dan harus ditangan. Keduanya harus berjalan beriringan, bila terlalu fokus ke hal-hal teoritik maka menumbuhkan pola pendidikan yang positivistik (bernilai lahiriah dan kebendaan sebagai ukuran), yang mengakibatkan anak-anak tidak memandang penting arti rohani atau akhlak, ditunjukkan dengan meningkatnya kasus hubungan seksual di luar nikah di kalangan remaja.
Setelah membaca karya tulis Gus Dur dan mendengarkan wawancaranya di youtube, secara garis besar arah gerakan Gus Dur membela rakyat terdapat dua langkah penting. Langkah pertama, untuk menunjukkan keberpihakan kepada rakyat kecil ia mulai dari dirinya sendiri. Mulai cara berpakaian, makanan, cara bicara dan kehidupan sederhana dalam keluarga. Gus Dur menerapkan hal tersebut hingga akhir hayatnya. Presiden ke-IV Indonesia ini sangat sederhana. Pasca memimpin Indonesia, ia terkadang kekurangan uang, hingga harus pinjam ke anaknya.
Dalam forum PPWK tersebut Gus Dur menjelaskan bahwa gaya sederhana yang dicontohkan langsung tokoh agama bisa mendorong umat lebih aktif dan loyal. Gus Dur lalu membandingkan kesederhanaan hidup para pemimpin agama (contohnya Pastor Katolik) yang mendorong umat untuk berkorban dan berpartisipasi, tapi terlebih dahulu mencontohkan kesederhanaan itu. Ini berbalik arah dengan kecenderungan sebagian pemimpin Muslim yang justru berebut kemewahan pribadi dewasa ini.
Bagi Gus Dur, jika ulama tidak memiliki keberpihakan pada rakyat kecil maka akan membuat umat pergi. Ajakan Gus Dur lewat perbuatan nyata dan ucapan supaya berpihak pada rakyat kecil memiliki tujuan jelas. Agar ulama tetap memiliki tempat di hati rakyat kecil.
Dalam catatan sejarah Eropa, dampak tokoh gereja yang memiliki gaya hidup glamor dan tidak peduli keadaan rakyat kecil, lambat laun agama tersebut tidak menjadi seperti agama mayoritas Eropa di Eropa (Katolik, Kristen) yang ditinggalkan umatnya, di mana gereja-gereja diperjual belikan.
Oleh karenanya, rumahnya di Cianjur terbuka untuk siapa saja: tukang becak, pemulung, santri, dan aktivis kecil. Acap kali Gus Dur berbagi honor ceramahnya langsung kepada pemulung atau tukang parkir. Guyonan beliau membuat rakyat kecil merasa “setara” dengan presiden.
Langkah kedua, Gus Dur menunjukkan keberpihakan pada rakyat yaitu lewat aksi nyata di lapangan. Terlihat jelas dalam perbuatan Gus Dur yang secara lugas mengkritik pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla di sela-sela doa bersama untuk keselamatan bangsa, di Bantul, 2007. Menurutnya, orientasi pembangunan nasional saat itu belum berpihak pada rakyat miskin. Rakyat yang miskin, katanya, semakin miskin dan terpinggirkan. “Diplomasi ekonomi rakyat” menjadi mandat yang mesti ditunaikan oleh pejabat Republik.
Kesempatan lain, Gus Dur mengkritik keras monopoli Bulog yang merugikan petani kecil dan mendukung reformasi agraria dan keadilan untuk buruh tani serta menjadi mediator konflik lahan rakyat vs perusahaan bertujuan supaya rakyat kecil merasakan kehadiran tokoh agama. Gus Dur juga bersuara lantang tentang toleransi beragama, menolak kekerasan terhadap masyarakat Papua, Aceh, dan berbagai kelompok adat. Dua langkah Gus Dur ini membawa pesan tersirat, bahwa suara kebenaran harus terus dijaga, bukan hanya diucapkan.
Inspirasi Gus Dur Membela Rakyat Kecil
Keberpihakan Gus Dur pada rakyat kecil merupakan warisan pemikiran dari leluhurnya seperti Hj Solichah Wahid, kakeknya yaitu KH M Hasyim Asy’ari yang punya perhatian ke petani dan ayahnya, KH Wahid Hasyim yang memiliki perhatian khusus ke pendidikan rakyat kecil.
Menurut buku Teladan dari Rumah Ulama karya dr Umar Wahid (adik Gus Dur), salah satu suri tauladan yang menginspirasi perjuangan saudaranya termasuk Gus Dur adalah sang ibu, Hj Solichah Wahid.
Gus Umar menulis bahwa keteladanan kedua orang tuanya tampak nyata dalam sikap dan keseharian. Nilai-nilai yang diwariskan KH Wahid Hasyim, sebagai penerus ajaran KH Hasyim Asy’ari, diterapkan secara konsisten dalam pola pengasuhan anak.
Gus Umar menekankan peran penting Nyai Solichah yang tetap tegar mengasuh anak-anaknya setelah wafatnya sang suami. Didikan Nyai Solichah yang tegas disebut menjadi penguat bagi putra-putrinya dalam menapaki masa depan.
Dalam catatan Ahmad Fathoni, mengutip Majalah Risalah Islamyah Jakarta, Edisi Nomor 7-IX, tahun 1977, beban untuk mendidik hingga menyekolahkan keenam anaknya itu betul-betul sangat dirasakan oleh Nyai Sholechah karena tidak banyak peninggalan suaminya selain ilmu dan perjuangan yang tiada tara. Ia menuturkan, suaminya adalah seorang pejuang yang tentunya tidak banyak perhatiannya pada harta benda selain keikhlasan. Ibunda Gus Dur pun harus menjadi pedagang beras dan lain sebagainya untuk menghidupkan anak-anaknya.
Penulis: Syarif Abdurrahman (Santri Tebuireng)
Editor: Thowiroh
Baca juga: Parenting Ala Gus Dur dan Nyai Sinta: Mendisiplinkan Anak dengan Keteladanan

