Kiai Nashir Fattah dididik dengan penuh kedisiplinan oleh kedua orang tuanya, Kiai Abdul Fattah Hasyim dan Nyai Musyarofah (putri KH Bisri Syansuri dan Nyai Nur Khodijah). Bermakna Kiai Nashir adalah cucu KH Bisri Syansuri Denanyar.
Pada 1972 Kiai Nashir nyantri di Pesantren Mathaliul Falah, asuhan KH Sahal Mahfudz. Nyai Nafisah, istri Kiai Sahal Mahfudh adalah kakak kandung Kiai Nashir. Pada 1978-1982, Kiai Nashir nyantri di Pesantren Al-Anwar Sarang, asuhan KH Maemun Zubair. Pada 1983-1985, Kiai Nashir mengaji di Makkah al Mukarramah.
Kiai Haji Abdul Nasir Fattah menjadi Rais Syuriyah PCNU Jombang kali pertama pada 2007-2012, dalam usia 51 tahun. Kemudian terpilih berturut-turut pada periode 2012-2017 dan 2017-2022.
Semenjak terpilih kali pertama sebagai Rais Syuriyah, ia banyak melakukan gebrakan. Di antaranya adalah mengawal langsung penerbitan majalah Nahdlah, yang dikelola Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTNU-NU) Jombang.
Surat Keputusan (SK) PBNU terkait Pengesahan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Jombang tertanggal 24 Oktober 2007. Beberapa bulan kemudian, Majalah Nahdlah kali pertama terbit pada Januari 2008, mengusung tema “Pilkada, Syahwat Politik dan Khittah NU.”
Edisi kedua terbit pada Juni 2008 dengan mengusung tiga pembahasan utama, “Membaca Wajah Ahmadiyah, Menggugat Amaliyah Warga Nahdlatul Ulama dan Pengajian Kitab Kuning.”
Pemred, Ainur Rofiq Al Amin ketika itu menulis, “Namun, untuk finalisasi semua naskah, dewan redaksi mendapat saran dan nasihat dari KH Abd Nashir Fattah. Rais Syuriyah PCNU Jombang itu bergabung langsung dan mengontrol kerja redaksi.”
Suatu saat dewan redaksi yang biasa mengadakan rapat di rumahnya Mas Andy Nawawi, kedatangan Gus Abdul Halim Iskandar. Ketika itu Gus Halim menawarkan suatu progam kerja sama, tapi Kiai Nashir yang juga rawuh ketika itu belum berkenan. Akhirnya, program sementara belum bisa dilaksanakan.
Ketika Tim Aswaja NU Center PWNU Jatim pada 2006 menerbitkan buku “Khazanah Aswaja”, Kiai sms WA kepada kami, “Aku tuku bukune yo.”
Tak lama kemudian kami sowan ke ndalem Kiai Nashir, Pesantren Al-Fathimiyyah Bahrul Ulum Tambakberas Jombang. Kami menolak uang yang disodorkannya, tapi kiai memaksa dan berkata, “Wes trimoen. Aku niate tuku, kok.”
Ketika kami menerbitkan buku “Aswaja Fikih dan Landasan Amaliyah” pada 2019, kami bermaksud sowan kepada Kiai Nashir. Alhamdulillah, walaupun sangat terlambat, keinginan itu terwujud pada Senin malam Selasa (14 Juni 2021) dalam momen Khataman Shahih al-Bukhari, bertempat di Masjid Denanyar Pesantren Mamba’ul Ma’arif.
“Buku opo iki?” tanya Kiai Nashir.
“Buku Aswaja, kiai,” jawab kami. Akhirnya kami memohon agar kiai berkenan foto.
Kiai Nashir dikenal sebagai kiai ahli fikih, dan banyak mempunyai majelis rutinan pengajian. Tercatat setidaknya ada 12 majelis rutinan berbasis kitab. Di antara rutinannya adalah pengajian Tafsir al-Jalalayn, Tafsir al-Ibriz (Karya KH Bisri Mustofa), Ihya Ulumiddin, Shahih Muslim, Riyadhus Shalihin, Minhajul Qowwim dan Fathul Muin.
Kiai Nashir dikenal juga sebagai sosok kiai yang entengan dan selalu memberikan solusi. Teman kami, bercerita bahwa kiai pernah memfasilitasi panitia Seminar Nasional Jam’iyyah Kubro Mamba’ul Ma’arif untuk sowan KH Sahal Mahfudz di ndalem Kajen. Alhamdulillah, acara pada November 1996 berjalan sukses dan Kiai Sahal rawuh.
Teman kami dan Gus Ahmad Athoillah suatu saat dimintai tolong almarhum Nyai Hamidah Ahmad Denanyar mengantarkan ater-ater ketupat, dan sejenisnya ke ndalem Kiai Nasir.
Sewaktu menunggu Gus Athoillah masuk ke ndalem, teman kami ini duduk bersimpuh di ruang tamu bersama seorang wali santri luar Jawa yang hendak membawa pulang anaknya yang sedang sakit.
Namun, ternyata Kiai Nashir tidak memperkenankan wali tersebut membawa anaknya pulang, dengan alasan bahwa solusi anak sakit itu ya diobati, bukan dibawa pulang. Akhirnya saat itu pula dihubungkan dengan dokter yang tak berapa lama kemudian datang sowan ke ndalemnya.
Ketika Pesantren Denanyar membuka Ma’had Aly, Kiai Nashir adalah salah satu dosennya. Yang senantiasa terngiang pada kami adalah ketika di sela mengurai Muktashar Ihya Ulumiddin, menyatakan:
“Manusia itu ada yang maqam kasab dan ada yg maqam tajrid. Kiai-kiai itu ada yang kaya, walaupun dzahirnya tak bekerja. Ada ikhtiar bekerja, tapi ndilalah bangkrut terus. Akhirnya ia menyadari bahwa maqamnya adalah maqam tajrid,” jelasnya.
Kiai kelahiran 24 Juli 1956 ini dikenal sebagai sosok kiai rendah hati, dan tak suka menonjolkan diri. Dalam suatu acara seremonial, sebisanya tidak duduk di kursi depan. Kata orang, Kiai Nashir sosok pribadi khumul.
Namun, di balik kesederhanaan dan kebersajaan itu, Kiai Nashir merupakan sosok kiai yang melek media dan teknologi. Suatu saat, kami sowan dan di sampingnya ada Kiai Imron Jamil (muridnya Kiai Jamaluddin Ahmad, yang juga mengampu pengajian al Hikam).
Kiai Imron tampak manggut-manggut ketika Kiai Nashir menunjukkan kitab kuning yang bisa diakses melalui handpone. Kami jadi teringat sosok cucu Kiai Bisri Syansuri lainnya, yaitu KH Abdul Mujib Shohib Denanyar yang juga peduli media dan perkembangan terkini.
Pada 2010, Kiai Nashir mempunyai ide mempertemukan kader muda NU yang aktif di pesantren, perguruan tinggi dan LSM. Hematnya, para kader ini harus bertemu dan saling berdialog.
Akhirnya pada 11 Oktober 2010, Kiai Nashir dan Kiai Wazir (Katib Syuriyah) bersama Ketua Tanfidziyah, Kiai Isrofil Amar dan Sekretaris, Gus Hamid Bishri menerbitkan SK Panitia Halaqah Kajian Keislaman. Sebagai hasilnya pada 2011, terbitlah buku “Menjadi Muslim Marhamah.”
Hari ini, Ahad 28 Agustus 2022, pada pukul 06.20 WIB, putra Kiai Nashir, Gus Rif’an mengabarkan bahwa ayahandanya, KH Abdul Nashir Fattah kapundut di RS dr Soetomo Surabaya. Kiai Nashir wafat merupakan kehilangan besar warga NU Jombang. Innalilllahi wainna ilahi rajiun. Allahummaghfirlahu. Aamiin.
Oleh: Ustaz Yusuf Suharto