Dalam rangkaian acara pra Muktamar Turats Nabawi (MUTUN), Mahad Aly Hasyim Asy’ari mengadakan agenda khataman hadis ekologi yang diikuti oleh seluruh mahasantri. Agenda tersebut dilaksanakan di Aula lantai satu Mahad Aly Hasyim Asy’ari, Jumat (12/12/25).
Kumpulan hadis-hadis ekologi tersebut disaringkan dari enam kutub sittah (Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan At-Tirmidzi, Sunan Ibnu Majah dan Sunan An-Nasa’i) oleh seluruh mahasantri Mahad Aly Hasyim Asy’ari, baik dari Marhalah Ula (M1) dan Marhalah Tsaniyyah (M2) dengan fokus pada tujuh tema utama.
Tujuh tema utama tersebut yakni Pemanasan Global, Kebersihan Lingkungan, Pengelolaan Sampah, Pengelolaan Lahan Kritis dan Konservasi Tanah, Etika Udara dan Polusi Udara, Etika Air dan Krisis Air Bersih serta Konservasi Sumber Daya Alam, Energi, dan Keanekaragaman Hayati.
Sekitar tiga 350 hadis yang dikumpulkan tersebut kemudian dibaca dalam agenda khataman hadis ekologi. Ketua Muktamar Turats Nabawi, Dr Ahmad Ubaid Hasbillah menjelaskan bahwa agenda ini menjadi khidmat tersendiri bagi mahasantri kepada Rasulullah di masa sekarang.
Yakni dengan membaca dan memahami kembali hadis-hadis ekologi yang menggambarkan kepedulian Rasulullah terhadap lingkungan yang mana krisis ekologi global telah menjadi tantangan besar yang harus dihadapi berbagai negara di seluruh dunia.
Ia juga menegaskan bahwa dunia islam tidak boleh hanya menjadi objek terdampak dari krisis ekologi, tetapi harus menjadi subjek pemberi solusi. Salah satu usaha untuk menanggulangi krisis ekologi ini yakni dengan membaca kembali hadis hadis nabi sebagai pijakan dalam memberikan solusi berbasis turats.
Melalui MUTUN, dengan berbagai agenda yang bertema Eko Sunnah dan Krisis Ekologi Global : Formulasi Kontribusi Islam Melalui Hadis untuk Agenda Pembangunan Berkelanjutan para intelektual hadis khususnya di Ma’had Aly Hasyim As’ari ingin menunjukkan bahwa Hadis Nabi sesungguhnya telah memuat nilai-nilai fundamental terkait etika lingkungan, konservasi alam, dan keberlanjutan.
“Nabi telah mencontohkan cara hidup yang seimbang dengan alam. Beliau melarang mencemari sungai, melarang menebang pohon tanpa kebutuhan yang benar, serta mendorong umatnya menanam pohon meski dalam situasi akhir zaman. Ini nilai yang sangat relevan menjawab krisis hari ini,” pungkasnya.
Baca juga: Peran Tokoh Agama dan Syiar Kesalehan Lingkungannya

