Internet Sebagai Media Belajar Umat Islam

Internet Sebagai Media Belajar Umat Islam

gambar di ambil dari NU Online

Memasuki dunia teknologi dan informasi yang semakin cepat, metode dan media belajar tentang agama Islam saat ini semakin canggih, sehingga menuntun masyarakat menuju ke arah modern dan modernisasi serta mulai meninggalkan cara konservatif, sehingga di masyarakat sekarang ini sering kita mendengar sebuah ungkapan yang cukup familiar dan kesannya amat menggugah kita untuk berefleksi sesaat, yakni, kehidupan saat ini ada tiga hal

Pertama, kehidupan di dunia.

Kedua, di dunia maya.

Ketiga, di akhirat

Saat ini, hidup tanpa teknologi dan Informasi sepertinya sangatlah sukar untuk di tinggalkan, khususnya bagi kalangan masyarakat modern yang melek teknologi. Munculnya internet bermula mendorong setiap insan untuk memiliki komputer dan kini telah meluas mencapai ranah HP.

Jika kita merujuk pada data Internet World Stats, Pengguna Media elektronik yang terhubung ke internet, penduduk paling banyak peminatnya adalah Asia, yang menduduki peringkat teratas, yakni 51,8%. Adapun negara Indonesia masuk sebagai negara terbanyak keempat. Data ini akan selalu berubah ke depannya.

Jika melihat segi manfaat dan kemanfaatannya, Internet belajar pun bisa menjadi salah satu wahana untuk belajar agama.

Umar Salim dan Samsuddin A. Rahim (2011) memaparkan hasil penelitiannya, Ia berkata bahwa terdapat 36 juta laman web yang berkaitan dengan agama-agama besar di dunia ini. Kajian yang ia lakukan melibatkan 392 generasi Muslim di Jakarta. Pengakses internet terbanyak dari kalangan anak muda, dan 93.100 responden memanfaatkan internet untuk melayani laman web agama.

Dalam e-agama mereka mencari hal yang berkaitan dengan Isu Islam, seperti Hukum, menenunaikan haji dan umrah, isu-isu semasa dalam Islam dan dunia Muslim, sejarah Nabi, Nasihat mengenai jodoh, dan tafsiran hukum Islam. Internet yang saban harinya mengalami perkembangan signifikan ikut serta memberikan dampak pada kandungan isinya.

Media Internet Di Dunia

Jamaah internetiyah di negara-negara Amerika, Afrika, dan Asia menjadikan internet sebagai sumber untuk melakukan aktivitas keagamaan. Di negara paman sendiri selalu mengalami peningkatan setiap tahunnya. Sebelumnya pada tahun 2000 sekitar 25 peratus menjadi 65 peratus di tahun 2003.

Jika memasukan kata ‘religion’ ditemukan 36 juta. 6 juta laman web agama kristen, 2 juta laman Yahudi, sisannya mengenai Islam, Hindu, Budha, dll. Di Singapura sebagaimana hasil laporan Shirley, Lee dan Shahira mendapati bahwa kalangan Islam di negeri itu memanfaatkan internet untuk meluapkan pendapat mereka untuk menyebarkan Islam dan menanyakan soal-soal Islam melalui email. Di Mesir pengguna internet kalangan Islam menjadikannya sebagai wahana berdiskusi baik soal demokrasi maupun soal Islam.

Adapun di negara kita Indonesia, terdapat beberapa media yang sering dikunjungi untuk oleh masyarakat Islam, Di antara media-media yang sering mereka kunjungi adalah; www.nu.or.id, www.wisatahati.com, www.dakta.com, www.majelisrosululllah.org, www.nurulmustafa.org, www.hidayatullah.com, www.muhammadiyah.or.id, www.dakwatuna.com dan lain sebagainya.

Dalam laman web yang ada di internet sendiri isu-isu Islam sangat beragam. Misalnya, masalah hukum/fiqh, masalah shalat (macam, cara, dan doanya), zakat, infak, sedekah, wasiat, dan waris, mengenai puasa, haji, umrah, doa-doa, dll. Hal ini menunjukan kepada kita bahwa betapa teknologi internet sudah berjalan serasi dengan kehidupan manusia modern.

Meningkatkan Ketrampilan Para Dai Kita

Hidup di zaman serba canggih seperti sekarang ini, informasi pengetahuan agama tersebar luas tanpa batas. Para santri yang merupakan generasi pejuang ulama masa depan harus membekali diri dengan banyak kemampuan, di samping belajar ilmu agama islam, ilmu lainnya seperti ilmu teknologi dan informasi dan lain sebagainya juga tak kalah penting. Karena nantinya lewat merekalah pesan-pesan agama di dakwahkan.

Jika mereka terjun ke masyarakatnya dalam menyampaikan pesan-pesan agama hanya menggunakan kemampuan via ceramah semata misalnya, tentu akan ketinggalan zaman.

Bagaimanapun juga membekali diri dengan kemampuan dakwahnya di dunia maya melalui tulisan juga penting. Kehadiran internet dengan jamaahnya yang taiap harinya meningkat menggugah semua civitas pesantren untuk mengisi ruang-ruang media di laman web Islam yang masih minim dari para santri penting dilakukan.

Secara tak langsung dakwah kultural mengalami perubahan yang sangat signifikan. Jika dahulu orang bertanya harus mendatangi para ahli agama di rumahnya ataupun menghadiri majlis-majlis pengajian, sekarang ini banyak yang mendatangi laman web-web Islami. Dan hubungan langsung via email. Kapanpun dan dimanapun dapat dilakukan. Kendati hal ini, juga memiliki kekurangan, rasa kurang puas muncul. Namun, mereka mendapatkan jawaban secara cepat. Kekurangannya adalah mereka tidak dapat bertemu secara langsung dengan gurunya sehingga rasa keteladanan dan kemanatapannya kurang tercerap.

Memang, saat ini kecanggihan Teknologi dan Informasi sudah begitu dahsayatnya, masyarakat-masyarakat plosok negeri umumnya dari generasi sepuh-sepuh masih belum sepenuhnya menggunakan media sebagai wahana belajar Islam. Tetap saja, generasi-generasi masa depan penting membaca situasi ini untuk dijadikan bekal di masa depan. Sehingga, mereka mampu menampilkan diri sebagai generasi Muslim-Muslimah yang andal dalam mendakwahkan pesan-pesan suci agamanya.

Exit mobile version