tebuireng.co – Ceramah Gus Miftah atau Miftah Maulana Habiburrahman menuntun seorang pria bule untuk masuk Islam. Setelah sebelumnya mengaku sebagai kelompok atheis.
Pria tersebut adalah Alang Heinrich, asal Berlin, Jerman. Alang dikenalkan dengan Gus Miftah oleh seorang penyanyi Indonesia, Liza Aditya. Setelah itu, Alang semakin semangat untuk mempelajari Islam.
Alang sedari kecil hidup berpindah mengikuti lokasi ayahnya bekerja. Sang fotomodel ini pernah tinggal di Sragen, Jawa Tengah. Namun karena dulu masih kecil, ia mengaku saat itu belum percaya agama, karena menurutnya, bagi Alang yang dulu masih kecil, guru-guru agamanya cukup ketat.
“Sedangkan bersama Gus Miftah, saya diperlihatkan bahwa agama itu menyenangkan dan membahagiakan orang,” jelas Alang seperti dikutip dari jernih.co, Senin (18/10/2021).
Bersama Gus Miftah, Alang merasa Islam jadi tidak menakutkan dan mendatangkan kedamaian di hati. Gus Miftah dengan kemampuannya membawa Islam yang ramah, bukan Islam marah. Ceramah Gus Miftah membawa pesan damai dan cinta.
“Semua agama itu baik, tidak ada agama yang buruk. Ketika Gus Miftah bercerita bahwa Islam itu menyenangkan, itu yang paling pertama kena di hati, bahwa saya ingin masuk Islam,” imbuh Alang.
Menurutnya, Gus Miftah juga menyampaikan Islam dengan santai, tapi penuh makna. Gus Miftah tidak memaksa dan menghakimi. Hal ini membuat Alang semakin mantap memilih Islam.
“Saat dia mengajari saya agama Islam, dia selalu bahagia, selalu senang dan selalu tertawa. Saya masuk Islam karena hati,” tegas Alang
Alang lalu bercerita, beberapa bulan lalu, di awal 2021, Alang Heinrich, mengalami musibah. Apartemennya di Berlin kebakaran. Namun, ia merasa masih beruntung karena tidak terluka.
“Saya tiba-tiba merasa seperti ada sesuatu yang lebih besar dari pada kita manusia. Seperti ada sesuatu yang lebih besar, yaitu Tuhan. Sebelumnya saya adalah ateis,” kata pria yang fasih berbahasa Indonesia ini.
Pada awalnya, niat Alang yang ingin memeluk Islam ditentang oleh beberapa keluarganya. “Paman saya, dia tidak suka sama sekali saya masuk agama Islam. Dia berpikir Islam itu identik dengan terorisme sebagaimana jika ada kasus diberitakan di televisi,” ceritanya.
Di lain pihak kawan-kawannya, baik yang ateis maupun yang kristiani mendukungnya memeluk agama Islam.
”Mereka bilang: Alang, kita senang sekali kamu sekarang sudah bertemu dengan Tuhan kamu. Walaupun bukan Tuhan kami, tapi paling tidak kamu bertemu dengan Tuhan kamu sendiri,” tirunya.
Ibunya juga mendukung keputusan Alang. Apalagi Alang memilih guru yang tepat. “Walaupun ibu saya dan adik saya juga beragama Islam, tapi agama itu kan tidak boleh dipaksa,” ungkapnya.
Dari ceramah Gus Miftah, Alang juga mengamati bentuk-bentuk toleransi beragama di Indonesia dan berharap ke depan akan selalu damai.
“Misalnya bagaimana dari tahun ke tahun, saat Natal, umat Katolik yang misa di Katedral Jakarta, diperbolehkan memarkir mobil mereka di Masjid Istiqlal, itu contoh rasa damai dan toleransi yang baik,” tegasnya.
Alang memilih Islam setelah usianya menginjak dua dekade. Ia juga banyak dibantu sahabat karibnya Liza Aditya. Liza Aditya bercerita mereka dulu berteman ketika Alang masih ateis.
“Saya sempat dulu bertanya pada Alang kenapa tak memilih satu agama? Dia waktu itu jawab, saya tak percaya Tuhan, oh ya sudah,” papar Liza mengenang perkenalannya dengan Alang
Lama tak ada kontak, ibu Alang menghubunginya. “Jadi katanya Alang dengar saya mengaji, ada di rekaman handphone-nya. Lalu dia tergerak. Katanya bacaan itu indah, seperti itu. Cuma karena ia susah sebut huruf ‘r’, jadi agak berat pelafalannya ketika mengaji, ” kata Liza.
Bagi Liza pribadi, ia menghargai untuk siapapun yang memeluk suatu kepercayaan, bukan hanya Islam, namun semua agama. “Karena aku meyakini bahwa tidak ada kita, jika tidak ada Tuhan. Jadi saya percaya, adanya tuhan dan dengan keyakinan dengan cara beriman. Walaupun berbeda-beda, tapi tujuannya sama.
Sebagaimana Alang, Liza pun sangat mendambakan semakin suburnya toleransi di tanah air, seperti yang dijelaskan Gus Miftah. ”Jadi saya berharap untuk siapapun, agar bisa melihat agama Islam dengan penuh damai dan rasa tenang,” tandasnya