Khutbah Jumat: Cara Menyikapi Covid-19 Tahun 2021

Cara Menyikapi Covid-19 di Tahun 2021

Cara Menyikapi Covid-19 di Tahun 2021 (ist)

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِن سَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن، قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ، وَقَالَ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا ، عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ، صَدَقَ اللهُ الْعَظِيْمُ، أَمَّا بَعْدُ

Kaum muslimin rahimakumullah…

Hari ini, berkat Rahmat dan Fadlolnya Allah kita masih diberikan kesempatan untuk beribadah. Sungguh nikmat Imam dan Islam sesuatu yang besar bagi umat manusia. Kita juga masih bisa menatap orang tersayang dengan penuh cinta. Bertemu kawan, teman sejawat dan tetangga.

Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang sangat kita harapkan syafaatnya kelak di hari kiamat.

Hadirin jamaah Jum’at yang dirahmati Allah

Di Jumat yang berbahagia ini, khatib mengajak kepada hadirin untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Dengan tahun baru, semangat baru dalam ibadah kepada Allah dan ibadah sosial kepada sesama manusia.

Beberapa orang meninggal dunia di sekitar kita selama ini. Hampir setiap hari ada kabar wafatnya seseorang. Baik tokoh agama, pejabat publik, tua, muda, besar, kecil. Ketetapan Allah terus berjalan. Ada yang lahir ke dunia dan sebagian lagi meninggalkannya. Suatu saat nanti, pasti kita akan mendapatkan giliran. Ini sebuah realita kehidupan yang tidak bisa dipungkiri.

Sidang Jumat yang dimuliakan Allah…

Tahun 2020 lalu bisa dikatakan dengan tahun yang penuh tantangan. Hingga saat ini berbagai hal yang baru telah menjadi kebiasaan sehari-hari. Beberapa kebiasaan terlihat membosankan. Namun, beberapa kebiasaan sangat menguntungkan bagi umat manusia. Kita mulai terbiasa mencuci tangan, menjaga kesehatan dan menjaga keluarga.

Ikatan rasa kekeluargaan juga semakin lengket karena lebih banyak menghabiskan waktu bersama. Para orang tua, jadi tahu betapa sulitnya mendidik anak. Karena selama Covid-19, anaknya banyak belajar secara online di rumah. Covid-19 juga membuat masyarakat Indonesia dekat dengan teknologi modern. Rapat sudah terbiasa daring dan jarak jauh.

Tahun 2021, momentum baru untuk terus bangkit dan tetap berjalan. Melihat lagi rencana-rencana tahun kemarin yang belum terlaksana lalu kita atur lagi pada tahun ini dengan memberikan skala prioritas. Tentu tidak baik mengeluh atas adanya rencana yang gagal tahun kemarin. Karena masih banyak lagi rencana atau keinginan yang dikabulkan Allah.

Oleh karenanya, marilah kita melakukan tajdîdun niyat, memperbaharui niat hidup kita, mengubah orientasi kita, merubah cara pandang, memperbaharui orientasi duniawi kita menjadi orientasi ukhrawi. Ada perbuatan atau pekerjaan jika dilihat seperti amal dunia tapi bisa menjadi amal akhirat. Bisa berpahala dan membawa jalan ke surga. Tergantung pada niatnya, ini sesuai dengan hadis yang diriwayatkan oleh Sahabat Umar bin Khattab radliyallahu ‘anh:

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Sesungguhnya segala amalan itu tergantung kepada niatnya, dan sesungguhnya tiap-tiap orang akan memperoleh balasan sesuai dengan apa yang diniatkannya.

Dari hadis ini, bisa kita berikan contoh semisal makan, jika sekilas hanya membuat kenyang. Namun jika makan diniatkan agar kuat beribadah dan lancar mencari nafkah untuk keluarga maka bernilai ibadah. Begitu juga tidur dan ngopi, jika diniatkan agar terhindar dari maksiat dan berbuat dosa maka bernilai ibadah. Apalagi diniatkan untuk menunggu salat lima waktu.

Firman Allah..

وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh, pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang” (QS An-Nisa’: 100).

Begitu juga saat diminta cuci tangan, jaga kebersihan, oleh pemerintah bila diniatkan mengamalkan perintah Al-Qur’an untuk taat kepada pemimpin maka bisa bernilai ibadah. Tak terkecuali dalam hubungan keluarga, membelikan oleh-oleh, jajan, makanan ringan untuk anak istri jika diniatkan untuk menjalankan perintah Allah dan tuntunan Nabi Muhammad agar berbuat baik pada keluarga juga bernilai ibadah.

Sidang Jumat yang berbahagia

Para ulama kita, sebagaimana dalam kitab Ta’limul Muta’allim sudah mengajarkan hal ini kepada kita semua :

كَمْ مِنْ عَمَلٍ يَتَصَوَّرُ بِصُوْرَة أعْمالِ الدّنْياَ وَيَصِيْرُ بِحُسْنِ النِيَّة مِن أَعْمَالِ الآخِرَة، كَمْ مِنْ عَمَلٍ يَتَصَوَّرُ بِصُوْرَة أعْمالِ الأخرة ثُمَّ يَصِيْر مِن أَعْمَالِ الدُّنْيَا بِسُوْءِ النِيَّة

Banyak sekali amal duniawi kita yang seakan-akan merupakan amal dunia semata, seperti makan dan minum, berkerja dan beraktifitas sehari hari yang seakan-akan merupakan amalan duniawi namun menjadi amalan ukhrawi dengan niat yang baik, niat melakukan sesuatu perbuatan karena Allah.”

Sebaliknya, banyak sekali amalan kita yang seakan-akan amalan akhirat namun dengan niat yang tidak tepat, semua itu menjadi amalan duniawi belaka. Shalat kita, zakat kita, wakaf kita untuk pembangunan masjid dan pesantren, haji kita, santunan kita terhadap fakir miskin dan anak yatim yang seakan-akan merupakan amalan akhirat bisa jadi merupakan amalan duniawi semata, hanya gara-gara kita salah dalam menata niat kita. Kita melakukan shalat, zakat, haji, santunan yatim hanya untuk orientasi duniawi, agar dipuji orang, disegani orang dihormati orang. Ini membuat amal kita tak bernilai ibadah. Kita sering salah dalam menata niat ibadah kita.

Oleh karenanya, di tahun 2021 ini, Covid-19 belum usai, mari kita niatkan setiap pekerjaan yang kita lakukan untuk mengabdi pada Allah, menjalankan perintah Allah lewat Al-Qur’an dan tuntunan Nabi Muhammad SAW. Paling mudah, setiap kegiatan awali dengan bismillah. Sehingga kelak setiap hembusan nafas kita, gerak tubuh, cucuran keringat dan pikiran kita bernilai ibadah kepada Allah. Alhasil, tahun 2021 menjadi tahun yang penuh berkah dan ibadah.

Akhir Kalam, mari kita nikmati dan jalani tahun 2021dengan baik dan benar. Tentunya dengan niat yang baik. Bisa jadi ini tahun terakhir kita, terakhir bersama orang yang dicintai, terakhir bisa beribadah, menyembah Allah dan berbuat baik kepada sesama manusia

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (١٣٣)

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ

Exit mobile version