Arrazy Hasyim, Ulama Ahlussunnah Wal Jamaah Asal Tanah Minang

Arrazy Hasyim, Ulama Aswaja Asal Minangkabau

tebuireng.co – Belum lama saya mengenal nama ini. Namanya mulai mengemuka lewat kajian-kajian keislamannya di dunia maya seperti facebook dan youtube. Namanya adalah DR Arrazy Hasyim, MA, merupakan penceramah asli tanah Minangkabau yang mulai menghidupkan kembali pemahaman ajaran Ahlussunnah Waljamaah sebagaimana diyakini dan dipraktikkan para ulama pendahulunya.

Dalam salah satu ceramahnya, Ustadz Arrazy mengatakan bahwa nama belakangnya yaitu Hasyim adalah pemberian ayahandanya yang dinisbatkan kepada pendiri Nahdhatul Ulama (NU) Hadratussyaikh KH M Muhammad Hasyim Asy’ari asal Tebuireng Jombang. Masih juga dalam salah satu ceramahnya, di depan hadirin, Ustadz Arrazy menyatakan kepada jamaahnya bahwa ia bukan orang NU secara kelembagaan/organisasi. Tetapi ia mencintai NU.

Arrazy Hasyim dilahirkan di Kota Tangah, Payakumbuh, Sumatra Barat pada tahun 1986, dari pasangan Nur Akmal bin M. Nur dan Asni binti Sahar. Arrazy kecil menempuh pendidikan Sekolah Dasar (SD) sampai Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri di Payakumbuh, lalu berpindah ke Bukittinggi untuk melanjutkan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN)/MAKN 2 Bukittinggi (2002-2004).

Pada tahun 2004-2009, ia melanjutkan studi perguruan tingginya pada jurusan Aqidah dan Filsafat di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah. Setahun sebelumnya ia menyelesaikan kajian hadisnya di Darussunnah. Di Darus Sunnah ia mengkhatamkan 6 kitab Hadis (Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, al-Tirmidzi, al-Nasa’i, dan Ibn Majah) yang menjadi standar keilmuan ulama Muhadditsin di bawah bimbingan Syaikh KH Dr Ali Mustofa Yaqub, MA, alumni Pondok Pesantren Tebuireng. Imam Besar Masjid Istiqlal selama 2 periode.

Pada setiap pertengahan tahun, dari 2006-2008 ia aktif belajar kepada Syaikh Prof Dr. M. Hasan Hito, Dr Badi Sayyid al-Lahham dan Taufiq al-Buti anak dari Syaikh Muhammad Said Ramadan al-Buthi, mereka semua dari Suriah. Pada tahun 2009-2011, ia menyelesaikan magister Strata 2 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Setelah itu, pada tahun 2012-2017, menyelesaikan doktoralnya di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta juga. Pada tahun 2016 dan 2017, mendapatkan kesempatan untuk mengisi aktivitas dakwah dan seminar keislaman di KBRI Paris, KJRI Marseille, dan komunitas Muslim lainnya di Perancis.

Arrazy aktif sebagai dosen Pascasarjana Institut Ilmu al-Qur’an (IIQ) Jakarta. Ia juga dosen ilmu Kalam dan Filsafat Islam di Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dari 2012 sampai 2019. Selain itu, juga aktif sebagai pengajar/pengampu kitab Aqidah AhlusSunnah dan hadits Sunan An-Nasa’i dan Ibnu Majah di Darussunnah. Pada akhir 2018, ia mendirikan Ribath al-Nouraniyah di Tangerang Selatan, takhassus Ilmu Akidah AhlusSunnah dan Tasawuf.

Sanad Keilmuan Arrazy Hasyim

Selain bimbingan Syaikh Dr Ali Mustofa Yaqub, Arrazy juga mendapatkan sanad hadis dari Syaikh al-Hadits Dr Khoja Muhammad Sharif dari Haydarabad, India. Begitu juga ia mendapatkan ijazah hadits dari Syaikh al-‘Arif Dr Muhammad ‘Abdurrabb al-Nazhari al-Syadzili dari Yaman, murid dari Syaikh Saif Bin Ahmad al-Alawi, Hasan Masysyath, Amin al-Kutbi dan al-Musnid Muhammad Yasin al-Fadani al-Makki. Ia juga menerima ijazah dan mulazamah dengan Syaikh Ahmad Marwazi al-Makki al-Batawi murid Syaikh Ibrahim Fathani dan al-Musnid Muhammad Yasin al-Fadani.

Di samping itu, ia menerima ijazah dari murid-murid al-Musnid Muhammad Yasin al-Fadani lainnya, seperti Syaikh Zakariya al-Halabi al-Makki, Syaikh Abdul Mun’im bin ‘Abdul ‘Aziz al-Ghumari, Syaikh Zakwan al-Batawi al-Makki dan lainnya. Dalam Aqidah Ahlus Sunnah, ia mengambil dari Syaikh al-Syuyukh Dr Muhammad Hasan Hito. Dalam Fiqh mazhab al-Syafi’i, ia mempelajarinya dari Syaikh Dr Taufiq bin Muhammad Sa’id al-Buti, Nahwu dari Syaikh Dr Ayman Syawwa al-Dimasyqi, Ulum al-Hadits dari Syaikh Dr Badi’ Sayyid al-Lahham.

Ia mulazamah kepada masyaikh Damaskus tersebut sebelum Syaikh Dr Muhammad Hasan Hito mendirikan STAI al-Syafi’i di Cianjur. Dalam ilmu zikir dan tasawuf, ia mendapatkan ijazah dari Syaikh Mawlana Kasril al-Khalidi, Syaikh Dr Muhammad Abdurrabb al-Nazhari al-Syadzili, Syaikh Darlis bin Hasan Basri al-Naqsyabandi al-Sammani, dan lainnya.

Mengapa Ustadz Arrazy Hasyim mencintai NU?

Menurut Ustadz Arrazy, Nahdhatul Ulama dan Muhammadiyah merupakan dua sayap kebangsaan yang terbukti oleh sejarah selalu konsisten mengawal NKRI. Dari dahulu hingga detik ini. Kedua sayap kebangsaan harus terus bersinergi, bekerjasama dan berkolaborasi demi menjaga negara Indonesia. Dua sayap kebangsaan ini tidak boleh patah salah satunya. Satu sayap patah, akan berakibat pada ketidakseimbangan. Ibarat burung (katakanlah burung Garuda sebagai lambang/simbol kebangsaan), ketika salah sayapnya patah, maka ia akan kesulitan terbang dengan cepat dan seimbang ke angkasa. Yang ada justru sebaliknya. Jatuh terjerembab ke tanah. Begitulah pentingnya dua sayap kebangsaan ini tetap bersatu.

Secara madzhab, Ustadz Arrazy berhaluan ahlussunnah waljamaah sebagaimana diyakini warga NU, di mana secara akidah mengikuti Imam Abu Hasan Al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur Al-Maturidi. Dalam bidang fikih mengikuti salah satu dari empat Imam madzhab yaitu Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Hambali. Pun dalam bidang tasawuf, Ustadz Arrazy mengikuti Imam Junaid al-Baghdadi dan Imam Abu Hamid Al-Ghazali. Clear. Pemahaman Arrazy dalam aspek teologi, fikih dan tasawuf, sama dengan ulama-ulama ahlussunnah waljamaah dunia dan NU.

Bagi saya, kehadiran beliau memberikan angin segar di tanah Minangkabau. Tanah di mana Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Syaikh Yasin Al-Fadani, H. Agus Salim dan H. Abdul Karim Amrullah (Buya Hamka) lahir. Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, misalnya, merupakan penganut Ahlussunnah waljamaah yang juga mengikuti Imam al-Asy’ari, bermadzhab Syafi’i dan penganut tasawwuf (sufi). Demikian juga dengan ulama mutiara Padang yang pernah menjadi kiblat ilmu di Makkah: Syaikh Yasin Al-Fadani juga bermadzhab Syafi’i dan berakidah Imam Al-Asyari. H. Agus Salim dan Buya Hamka pun demikian.

Jujur, selama ini saya membaca bahwa tanah Minang identik dengan ajaran Wahabiyah. Pemahaman keagamaan masyarakat Minang yang kaku, ketat, sangat tekstualis, anti tasawuf, anti madzhab, mencela akidah Imam al-Asy’ari, suka membid’ah (sesat), anti ziarah kubur dan banyak hal lainnya ini setidaknya saya “baca” salah satunya dari kelompok yang menamakan diri mereka “Minang Bertauhid”. Kelompok “Minang Bertauhid” ini sangat agresif-massif menjual ajaran Wahabiyah mereka di media sosial. Ketika dicermati dan telusuri isi kajian-kajian mereka, fakta-fakta di ataslah yang akan kita temui.

Padahal, para pendahulu mereka, empat tokoh/ulama yang saya sebutkan di atas bermadzhab Syafi’i (dalam fikih) dan berakidah Imam Al-Asy’ari (Asy’ariyah) serta bertasawuf. Rupanya, persepsi saya tentang masyarakat Minang itu keliru. Ustadz Arrazy adalah pembuktian tanah Minang tak seperti yang saya bayangkan selama ini. Bahwa kelompok “Minang Bertauhid” yang saya lihat selama ini sama sekali tidak merepresentasikan akidah para ulama dan masyarakat Minangkabau.

Menurut Ustadz Arrazy, setelah ia sowan ke banyak ulama di tanah Minang, masih ada banyak sekali ulama-ulama yang berhaluan Ahlussunnah Waljamaah sebagaimana dipahami para ulama pendahulu mereka, termasuk empat ulama yang saya sebutkan di atas. Para ulama yang berakidah Ahlussunnah Al-Asy’ariyah/Al-Maturidiyah, bermadzhab Syafi’i dan merupakan pengamal ajaran tasawuf (juga tarekat) yang di haramkan oleh kelompok “Minang Bertauhid”.

Dalam kajian-kajiannya, Ustadz Arrazy Hasyim selalu menyampaikan ajaran Ahlussunnah Waljamaah sebagaimana dipahami mayoritas ulama Ahlussunnah Waljamaah dan dipraktekkan masyarakat sunni dunia (berakidah Asy’ariyah/Al-Maturidiyah, fikih Syafi’iyah dan ajaran tasawuf). Belakangan ini Ustadz Arrazy Hasyim mulai mendapatkan penentangan, hujatan hingga fitnah dari kelompok yang menamakan diri “Minang Bertauhid” ini. Sama seperti yang dialami oleh Ustadz Abdus Shomad dan Ustad Adi Hidayat, Ustadz Arrazy Hasyim juga mendapatkan celaan sebagai orang yang -kata mereka- menyalahi sunnah Nabi Saw. Apa yang disampaikan Ustadz Arrazy melenceng dari manhaj salaf.

Poinnya, ajaran Islam yang diajarkan Ustadz Arrazy adalah ajaran yang dholalah (sesat) karena tidak seperti dipahami oleh kelompok “Minang Bertauhid” di mana pemahaman mereka hanya merujuk kepada ustadz-ustadz Rodja. Senang membid’ah-sesatkan amaliyah-amaliyah mayoritas muslim Ahlussunnah Waljamaah dunia yang berakidah Al-Asy’ariyah/Al-Maturidiyah, berfikih Syafi’iyah dan bertasawuf/bertarekat. Sebuah vonis yang mengerikan (sesat) karena dialamatkan kepada sesama ahlul qiblah.

Padahal konsekuensi dari vonis ini sangat berat sebagaimana yang disampaikan banyak para ulama Ahlussunnah Waljamaah, salah satunya Hujjatul Islam: Imam Abu Hamid Al-Ghazali yang mengatakan bahwa “jika tuduhan kafir itu keliru/salah (di hadapan Allah), maka vonis sesat/kafir itu berbalik ke arah si penuduh”. Naudzubillah tsumma naudzubillah. Tulisan singkat ini saya dedikasikan kepada Ustadz Arrazy Hasyim sebagai bentuk dukungan saya kepada beliau agar terus istiqomah menyampaikan ajaran Islam Ahlussunnah Waljamaah sebagaimana dipahami para ulama pendahulu tanah Minang seperti Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi dan Syaikh Yasin Al-Fadani serta Buya Hamka di tanah Minangkabau.

Muhammad Aminullah dan beberapa sumber lainnya.

Exit mobile version